Kamis, 04 Oktober 2012

Cermin Kaca Soekarno

Cermin Kaca Soekarno

Mommy, masih suka baca roman gak ? atau lebih suka cerita sejarah ?
Buku yang satu ini recomended lhoooo,
Siapa ya yang punya buku lanjutannya ? masih penasaran karena nyari ditoko buku udah gak nemu

Cermin Kaca Soekarno  merupakan  roman sejarah.  Cerita yang luas, rumit dan bercabang-cabang, membuat tokoh utama sebagai bagian kecil dari perjalanan sejarah, walaupun  memakai gaya penuturan AKU. Tokoh fiktif dan nyata terasa begitu menyatu, seperti kita ikut mengalaminya. Tokoh AKU, merupakan pengagum Soekarno, yang menganggap dirinya adalah anak rohani Soekarno. Dia adalah anak tokoh pergerakan yang dididik ayahnya menjadi nasionalis sejati, bahkan sampai ayahnya dibuang ke Boven Digoel ... melalui surat-suratnya terus mengobarkan semangat perjuangan. Isi surat ayah AKU menceritakan keadaan pembuangan, seperti yang kita pelajari dalam sejarah, secara lebih pribadi.
Melalui tokoh AKU dan segala pembicaraannya, kita bisa ikut mengalami pengadilan Soekarno di depan Landraad. begitu jelas dan sentimentil digambarkan kekaguman terhadap Soekarno, dan kelicikan pemerintahan Belanda waktu itu.
AKU begitu dipengaruhi oleh roh Soekarno, ayahanda, Kusuma, Surendra, Kartini, Max havelaar dan Nellie Roberta yang begitu berani dan antusias pada pergerakan kemerdekaan. tapi tentu saja AKU tidak bisa dilepaskan dari lingkungan yang pro Belanda, mengingat ia adalah istri Bandi, kepala Polisi  yang akhirnya bekerja di bagian reserse. Tugas suaminya pula yang membawa AKU lebih mudah mengikuti perjalanan dan pergerakan Soekarno, termasuk menyaksikan saat-saat guru rohaninya ditangkap. Suatu kepedihan, tapi ironis juga suatu keuntungan ia menjadi istri Bandi. Kemudahan untuk duduk bersama orang-orang Belanda yang memperkenalkannya pada sosok  Max Havelaar dan Nellie Roberta serta menghubungkannya dengan Kartini. Begitu juga dengan tempat tinggal yang berdekatan dengan Inggit Ganarsih, sumber ketabahan dan kesetiaannya. Menyaksikan perjuangan perempuan itu mendampingi Soekarno menimbulkan simpati dan rasa hormat, sekaligus bibit membenci dirinya sendiri karena bersuamikan antek Belanda.

Kultur masyarakat Jawa yang mengangungkan priyayi dan kompeni juga menyeret AKU kedalam arus pusaran hidup, yang memperkenalkannya pada Kusuma dan Surendra.


Pelajaran Sejarah yang berbalut Roman ( atau sebaliknya ?), yang patut dibaca siapa saja.